Resensi Novel “AKU, KAU DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH”

Judul : Kau,Aku,dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 512 hlm; 20 cm
ISBN : 9789792279139

Bismillahirrahmanirrahim,,,,
Darwis Tere Liye piawai menulis novel melankolis. Banyak pembacanya yang mengaku menangis saat baca novelnya. Novel ‘Kau,Aku, dan Sepucuk Angpau Merah’ membuat pembaca menangis sekaligus tertawa. Novel ini terasa spesial diantara berjuta kisah cinta, karena dituturkan secara detail, khas, sederhana tapi penuh makna. Novel ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Borneo, tapi orang-orang lebih suka memanggil Borno dari pada Borneo. Dia tinggal di rumah panggung tepian Sungai Kapuas, Kota Pontianak. Dia adalah pemuda yang berhati lurus, sangat menghormati orang tua, ringan tangan, tidak neko-neko. Pada usia 12 tahun ia di tinggal bapaknya yang meninggal dunia gara-gara jatuh dari perahu dan tersengat racun Aurelia aurita (ubur-ubur). Tapi sebelum bapaknya meninggal dunia, Beliau mendonorkan jantungnya tuk pasien gagal jantung.

Bab satu dimulai dengan riwayat pekerjaan Borno. Dia selalu ganti-ganti pekerjaan. Borno pernah kerja di pabrik pengelolaan karet selama 6 bulan, yang berisiko di olok-olok tetangga karena bau karet tetap melekat ketika Borno pulang kerja. Borno melamar pekerjaan di Syahbandar Pontianak. Salah satu alur lucu diselipkan. Borno mempraktekkan tips dari Pak Tua agar menyapa satpam dengan menyebut namanya agar lebih bersahabat. Tenyata nama yang tertera di seragam itu bukan nama sebenarnya. Satpam itu meminjam seragam Pak Mardud. Borno dipuji pejabat Syahbandar saat memberi tahu tips menghilangkan bau karet yakni menggunakan daun singkong.
Karena pemberian tips itu, Borno diberi kesempatan kerja di Dermaga Feri. Akan tetapi tidak bisa bekerja lama, karena tidak disetujui Bang Togar (saudara Borno), Ketua PPSKT (Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta). Memboikot Borno tidak boleh naik sepit manapun. Ternyata Bang togar tidak suka Borno kerja di sana, karena kapal feri itu lah yang membuat 3 turunan pengemudi sepit harus bersaing mencari pemumpang dengan kapal feri yang ukurannya lebih besar dan lebih cepat membelah sungai Kapuas
Akhirnya Borno keluar dengan sendirinya dari pekerjaan kedua ini. Tapi bukan gara-gara pemboikotan tersebut, melainkan karena hatinya yang lurus. Yap kenapa lurus, karena Borno mengetahui bahwa temannya sesama penjaga karcis bersifat curang menggelapkan penumpang naek ke feri tanpa membayar. “Kau tahu Borno, tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Di makan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin di setrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan”
Setelah itu Borno bekerja serabutan, sampai pada saat Ibu Borno, Bang Togar, Cik Tulani, dan Koh Acong meeting, memutuskan agar Borno bekerja saja sebagai pengemudi sepit. Sepit (dari kata speed) adalah perahu kayu, panjang 5 meter, lebar satu meter, dengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel. Faktanya memang sepit ini benar-benar ada di sungai Kapuas loch. Digunakan untuk alat transportasi sehari-hari masyarakat. Saat proses belajar mengemudi sepit, Borno harus mematuhi perintah Bang Togar. Ia harus mengecat badan sepit, membersihkan jamban selama tiga hari. Sampai tampang Borno kusut. Pak Tua hadir sebagai penenang. Ia sering menasehati Borno.
“Sederhana, Borno. Kau bolak-balik sedikit saja hati kau. Sedikit saja, dari rasa disuruh-suruh menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Seketika, wajah kau tak kusut lagi. Dijamin berhasil. Bahkan Togar malah mencak-mencak lihat kau tersenyum tulus saat dia meneriaki kau bergegas menyikat kakus.” (Halaman 59).
“Aku akan memulai kehidupan sebagai: pengemudi sepit. Sungguh, meski melanggar wasiat bapak, aku berjanji akan jadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras-meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit”.
Ternyata, pekerjaan Borno yang unik ini, membawa ia menemukan cinta pertama dan sejatinya. “Inilah pekerjaan baruku, yang ternyata berkelindan dengan banyak hal, termasuk salah satunya dengan cinta sejati-salah satu pertanyaan terumit selain berapa lama waktu yang diperlukan kotoran berhiliran dari hulu Kapuas hingga muaranya di Laut Cina Selatan”.
Pertemuan Borno dengan cinta sejatinya itu dimulai ketika ia pertama kali membawa penumpang setelah berlatih mengemudikan sepit. Berawal dari pertemuan singkat di sepit. Saat penumpang sepitnya turun semua karena tidak percaya Borno bisa mengemudi, gadis itu masih bertahan duduk sendirian. Gadis itu menjatuhkan amplop berwarna merah (yang ternyata angpau) di sepit Borno. Dan isinya ternyata bukan uang melainkan surat. Borno baru membuka surat itu ketika Mei memutuskan pergi dan terbaring sakit. Padahal angpau itu menghubungkan kejadian pas Borno usia 12 tahun. “Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta, tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi”.
Sejak saat itu, Borno selalu berharap gadis sendu menawan itu jadi penumpangnya. Setiap hari Borno berusaha dapat antrian nomor tiga belas. Agar gadis itu jadi penumpangnya. Meskipun berkali-kali gagal dapat antrian tiga belas, Borno tetap gigih. Gadis itu selalu naik sepit ‘Borneo’. Gadis itu ingin diajari mengemudi sepit. Sehingga mereka lebih akrab. Meskipun beberapa kali bertemu, Borno tidak tahu nama gadis itu. Inilah trik membangun rasa penasaran pembaca. Saat perkenalan, Borno coba melucu dengan cerita tentang orang bernama Rabu Kliwon. Ia menceritakan ada dua belas anak yang diberi nama bulan Januari, Februari sampai Desember.
“Namaku Mei, Abang. Meskipun itu nama bulan,kuharap Bang Borno tidak menertawakannya….” Borno ternganga macam orang sakit gigi di buritan kayu. (Halaman 127). Dari dialog itu pembaca merasakan campuran emosi tokoh. Yang awalnya senang karena menganggap ceritanya lucu dan menertawakan. Menjadi kaget, takut menyinggung perasaan Mei. Ternyata Mei tidak marah, bahkan dia mengajak Borno latihan sepit lagi. Mei mengirim surat untuk Borno. ….
“Nb. Abang harus tahu, lebih jarang orang bernama Sumatra,Jawa,Sulawesi atau Kalimantan dibanding nama-nama bulan. Jadi sebenarnya lebih aneh nama “Borno”, apalagi e-nya hilang gara-gara orang lebih mudah memanggil Borno dibanding Borneo. Sampai ketemu besok siang, Abang Borno alias Abang “Kalimantan” alias Abang “bekas sungai” (Halaman 134 – 135)
“Cinta sejati adalah perjalanan, Andi,” Pak Tua berkata takzim. “Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi sekedar muara. Air di laut akan menguap menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tak pernah berhenti, begitu pula cinta.” “Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta, Andi. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi.” (Halaman 168)
“Kau tahu, Borno. Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan sekejap berikutnya mengubah hatimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang.”
Dan masih banyak lagi contoh contoh pesan moral yang diselipkan dalam dialog. Salah satu trik menyampaikan pesan moral secara halus dengan menyelipkan dalam dialog.
Tapi hubungan mereka tiba-tiba putus di tengah sungai, eh jalan deh. Karena Mei, memutuskan menjauhi Borno. Dia khawatir borno akan membencinya kalau tahu siapa Mei sebenarnya. Semua kekhawatiran Mei, akan Borno ketahui setelah ia membaca isi surat di angpau tersebut. Dan tahukah kau apa reaksi Borno setelah membaca surat itu? ini dia:
“Aku akan berjanji akan selalu mencintai kau, Mei. Bahkan walau aku telah membaca surat dalam angpau merah itu ribuan kali, tahu masa lalu yang menyakitkan, itu tidak akan mengubah apa pun. Bahkan walau satpam galak rumah ini mengusirku, menghinaku, itu juga tidak akan mengubah perasaanku”
Membaca novel ini, walaupun tebal dijamin tidak akan bosan. Karena ceritanya ga melulu persoalan cinta antara Borno dengan Mei. Diselingi dengan cerita rasa kekeluargaan dan gotong royong sesama pengemudi sepit, kisah perjuangan cinta Bang Togar merebut hati anak suku dayak, petuah-petuah bernas dari Pak Tua, Novel ini sarat ilmu teknik mesin. Sepit tua bisa diganti mesinnya aga berkecepatan tinggi. Bahkan mampu memenangkan lomba lawan sepit baru.
Pembaca bisa ikut belajar mengendarai sepit dan mengetahui cara kerjanya. Deskripsinya cukup detail sehingga pembaca bisa membayangkan di benak. Tokoh Borno membuktikan bahwa pintar tidak harus kuliah. Dengan belajar lebih banyak dibandingkan mahasiswa, ia bisa menjadi montir cerdas yang mampu membuka bengkel laris.
Pekerjaan terakhir yang membuat ia sukses adalah menjadi montir bengkel. Borno mau berkongsi dengan Bapaknya. Andi, teman sejatinya Borno harus merasakan penipuan dan penghinaan Tapi Borno tetap bangkit hingga sukses. Hampir satu tahun ditinggal pergi oleh sosok yang ia cintai. Berkali-kali Borno mengirim surat untuk Mei. Tapi tidak pernah dibalas. Borno semakin penasaran kenapa Mei tidak mau menemuinya. Ia hanya menulis sebaris kalimat yang cukup menyayat “Maafkan aku, Abang. Seharusnya aku tidak pernah menemui Abang.” Alur ini berhasil mengaduk emosi pembaca.
Bagian akhir novel ini cukup mengejutkan. Sepucuk angpau merah menjawab semua pertanyaan Borno. Penerimaan Borno terhadap kesalahan Mei telah membuktikan bahwa ia adalah seorang bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas. Karakter Borno ini patut diteladani. Novel ini cocok sekali untuk mereka yang sedang jatuh cinta, patah hati dan rindu berat. Nilai gizi novel ini cukup tinggi karena sarat pesan moral, ilmu dan tips yang bermanfaat. Sehingga pembaca tidak merasa buang-buang waktu membacanya.
Alhamdulilah,,,
Nah cukup segini aja resensi buku ya, kita harus sama-sama baca novel ini. Semoga bermanfaat,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s